peshawar_church-attacked41

Kenapa kalian tak pergi ke surga saja sendirian..?

Kenapa kalian tak pergi ke surga saja
sendirian..?
Jika memang dunia ini sudah terlalu sumuk,
kenapa kalian sulut bara
di tengah-tengah keramaian?

Pergilah ke surga sendirian..
Kami yang duniawi ini
masih punya sederetan dendam dan mimpi.
Masih pula kami terhibur
pada panjangnya daftar harapan kami
yang mungkin tak bakal kesampaian.

Kami masih bercukup diri,
melampiaskan rindu dan birahi
pada kekasih kami.
Tak ada urusan kami dengan bidadari.
Masih kami syukuri
semburat fajar pagi
yang menerobos teralis pondok kami,
atau tempias gerimis sore hari.
Betapa pun menjengkelkan,
kadang kami kangen
pada rengekan anak-anak kami.

Kami masih punya daya
untuk mencintai dan membenci
sambil tetap melanjutkan hidup kami.

Jadi, pergilah ke surga sendirian.
Tapi jangan kutuk siapa-siapa
jika yang kalian jumpai
kekosong-melompongan.

Kembangan, 27-28 Maret 2016

06a4f714-bcbe-4af7-9961-293d7a4c84f0_169

Satpam

Hanya sehari setelah aksi teror di Sarinah, perempatan komplek dekat rumah saya tiba-tiba ramai. Keramaiannya mengingatkan saya pada kerumunan orang-orang yang menonton baku tembak polisi-teroris di Sarinah. Saya yang baru saja pulang dari membeli buah-buahan untuk papa saya bergegas pulang.

Sesampai di rumah saya melihat mama sedang khusyuk dengan telepon genggamnya. “Ma, perempatan komplek ramai banget loh. Ada apa ya?” tanya saya dengan asumsi jejaring ibu-ibu komplek sudah bergosip dan mendapatkan informasi yang valid. Asumsi saya benar. Mama kemudian menjelaskan perkara di balik kerumunan orang-orang. “Kata bu Herman teroris yang tadi bom bunuh diri dekat Sarinah ternyata tinggalnya dekat sini, di belakang rumah kita. Dekat warung nasi uduk mpok Yam!” kata mama saya merujuk pada informasi yang ia dapatkan lewat grup WhatsApp ibu-ibu komplek. Canggih juga ibu-ibu zaman sekarang, bergosipnya sudah lewat Android.

Saya kemudian dapat informasi yang lebih lengkap dari papa. Pelaku berinisial MA yang kosannya disatroni polisi ini dulunya satpam komplek, sering jadi imam di masjid yang jaraknya hanya selemparan batu dari rumah saya. Biasanya dia mengimami setiap subuh hari Senin dan Selasa. “Dia ini kalau jadi imam, bacaannya ayat-ayat panjang,” kata papa seolah menyindir saya yang selalu merapal Al-Ikhlas dan Al-Kautsar jika mengimami. Besok paginya saya ngobrol soal penyisiran semalam dengan tetangga yang rajin ronda. “Memang kawan yang satu ini paling semangat kalau ngobrol soal jihad ke Suriah. Dia malah pernah bilang siap berangkat ke Suriah kalau ada yang mau kasih modal 30 juta,” tutur tetangga saya itu. Akhirnya lantaran tidak kesampaian “jihad” ke Suriah, “jihad” ke Sarinah pun jadi.

Dari berbagai cerita yang saya simak, saya mendapat kisah yang menurut saya tragis. Beberapa orang mengaitkan pilihan MA dengan riwayat keluarganya. Riwayat keluarga MA ini suram betul di mata penduduk komplek. Almarhum bapaknya MA yang dulunya tuan tanah Betawi sering kepergok mencuri buah di pekarangan rumah warga komplek. Ketika dipergoki dia bakal lebih galak dari yang memergoki. “Diam aja lu pendatang! Ini kan tanah guwa!” begitu kata papa saya meniru gertakan almarhum bapaknya MA kalau ketahuan mencuri buah. Adiknya MA yang sempat jadi guru ngaji bertahun-tahun yang lalu memperkosa tetangganya dan akhirnya diciduk polisi. Orang-orang pun menganggap sekeluarga MA memang ganjil dalam bermasyarakat dan mengambil keputusan hidup. Saya sendiri tak mau ikut-ikutan menempelkan label seperti itu. Saya justru sedih ketika tahu MA meninggalkan tiga orang anak yang masih kecil-kecil.

Tapi bagi saya yang paling ironis adalah pekerjaan MA sebelum akhirnya direkrut sebagai pelaku teror Sarinah. MA tadinya bekerja sebagai satpam komplek selama bertahun-tahun, lalu kemudian mengundurkan diri. Tepatnya kapan dan alasannya kenapa saya tidak paham. Setelah mengundurkan diri itu MA bekerja sebagai satpam di restoran depan komplek. Sialnya, restoran itu tutup tak lama setelah MA mulai bekerja. Menurut gosip bapak-bapak, MA mulai stres lantaran kehilangan pekerjaan. Dalam keadaan limbung itulah MA yang sedang serabutan bekerja jadi sopir angkot akhirnya direkrut jadi pelaku teror Sarinah.

Dari berita-berita yang saya simak, saya dengar soal satpam-satpam di sekitar Sarinah yang harus berjibaku dan turut terancam nyawanya oleh aksi teror MA dan kawan-kawan. Para satpam berhadap-hadapan dengan MA yang mantan satpam. Dalam keadaan macam begini, menjadi satpam berarti menyabung nyawa sendiri. Padahal sependek pengetahuan saya, para satpam ini salah satu kaum pekerja yang nasibnya paling tidak menentu lantaran jenis pekerjaannya dilepas sebagai alih daya. Sedangkan masyarakat menuntut jasa pengamanan dari satpam yang tidak bisa mengamankan masa depannya sendiri..

Ini pas sekali dengan pandangan saya terhadap terorisme. Saya lebih suka melihat terorisme sebagai gejala ekonomi-politik ketimbang gejala teologis atau akidah. Bagi saya aksi teror adalah pertikaian antara kelas pekerja. Kaum pekerja yang dipaksa untuk memilih antara tereksploitasi atau tersingkir akhirnya menyalurkan frustasinya melalui tindakan yang menghancurkan diri sendiri dan sesamanya.

Kasus tragis macam MA dapat terhindar jika satpam-satpam berhimpun di bawah panji kelas pekerja, bukannya saling tikai dengan pekerja lain lantaran beda agama atau hanya beda tempat pengajian.

10314690_10206463430812927_404027608917438177_n

From Winter to Winter

(Background music: Kiss The Rain, Yiruma)

It was a frozen sea
when I  just arrived,
and it is also a frozen sea
when I’m about to depart.
It’s the same,
but deep inside
its entirely different.
The sea is the same as it was,
but its particles
freeze in different motion.

As I often failed to capture
this tiny details,
I used to think that nature
is stuck on
a repetitively gloomy pattern.

Then I aware the beauty of it
when I saw seasons got replaced
by other seasons without
any sense of betrayal.

Did you see how sincere
was the cherry blossom
when it fell and
swept away by the gardener
in the beginning of the summer?
Did you see how firm
was the tree
when it stands leafless
during the winter?
Did you see how cheerful
were those gardens
when the spring allowed them
to bloom,
yet they were
remorselessly wilt
when the autumn came?

And no matter what season it is
I hope you
will always recognize me.
As always I will be
that time optimist
who rehearse the sentence
“I’m sorry I’m late,”
from time to time.
As always I will be
that lonely stranger
in his very own room.

As always I will be
remembered of you
when I feel homey
in a city where
I’ve never been before.

Seoul, 19 February-25 December 2015

Autumn

After experiencing all the seasons, I think my favorite is autumn. This season reminds me to Nietzsche’s joyful science, speculating on the eternal return of nature. Like those fallen leaves, someday we also have to reconcile peacefully with the so called death.

This certainty makes some people become defeatist, simply because they perceive death inevitably as a final surrender. But it is our struggle to make our death as a glorious closure, or to be prepared for the new adventure across the unknown river.

12187809_10208155767440285_4831959839656993914_n

g1

Tvashtri dan Perempuan Ciptaannya

Dalam mitos Sanskrit, dikisahkan bagaimana Tvashtri menciptakan perempuan. Lantaran mitos ini ditulis oleh masyarakat patriarkis, karakter perempuan dilihat dari sudut pandang yang serba sepihak laki-laki. Perempuan juga dinarasikan tak bisa menetukan nasibnya sendiri dalam mitos ini. Aku belum membaca “The Second Sex” karya Simone de Beauvoir, tapi barangkali reproduksi mitos semacam inilah yang melandasi gugatannya.

Betapa pun, aku menemukan keindahan dalam dilema yang dikisahkan mitos ini–mungkin ini juga karena aku (sejauh yang kuketahui) laki-laki. Aku menemukan penggalan kisah mitos ini dalam buku yang besok akan kukembalikan ke perpustakaan. Jadi kupikir ada baiknya kuterjemahkan dulu penggalan mitos tersebut dengan kegenitan yang pas. Berikut adalah terjemahan bebasku terhadap mitos tersebut:

‘Pada permulaan segala-gala, ketika Tvashtri hendak menciptakan perempuan, ia menemukan dirinya kehabisan bahan baku. Tak ada bahan baku yang tersisa setelah ia menciptakan laki-laki. Setelah meditasi yang mendalam demi menghadapi dilema ketersediaan bahan baku, akhirnya ia mengambil langkah-langkah sebagai berikut. Ia mengambil kebulatan rembulan, lekuk tanaman rambat, kelekatan sulur-sulur, gemetaran rerumputan, ringannya dedaunan, tirus belalai gajah, langsing alang-alang, mekar bunga-bunga, lirikan rusa, merumpunnya lebah-lebah, keriangan sinar mentari, tangis mega mendung, ketakmenentuan angin, jinak kelinci, keangkuhan merak, kelembutan dada burung nuri, kekejaman harimau, ketegaran intan permata, legit madu, hangatnya nyala api, dinginnya salju, celotehan burung jay biru, dekut burung bulbul, kepura-puraan bangau, dan kesetiaan angsa. Semua itu kemudian disenyawakan jadi satu, dijadikannya perempuan dan diberikannya perempuan itu pada laki-laki.

Namun setelah tujuh hari, sang laki-laki mendatangi Tvashtri dan berkata, “Ya Rabb, makhluk yang kau berikan padaku ini membuat hidupku menderita. Ia berceloteh tiada putusnya dan terus mengusikku, ia tak pernah mau membiarkanku damai dalam kesendirian dan terus meminta perhatian, menghabiskan waktuku, menangisi hal-hal remeh-temeh, selalu bersantai-santai.. Jadi aku putuskan untuk mengembalikannya padamu, karena aku tak bisa hidup berdampingan dengannya.”

Tvashtri hanya menanggapi, “Baiklah kalau begitu.” Lalu mengambil perempuan itu kembali.

Setelah tujuh hari yang lain berlalu, si laki-aki mendatangi lagi Tvashtri dan berkata, “Rabb, betapa sepi hidupku setelah kukembalikan makhluk itu padamu. Aku terkenang bagaimana ia menari dan menyanyi, menatapku dari sudut matanya, bermain-main dan melekat padaku; tawanya adalah musik, ia indah dipandang, dan lembut ketika disentuh. Maukah engkau mengembalikannya padaku..?”

Tvashtri hanya menanggapi, “Baiklah kalau begitu.” Lalu mengembalikan perempuan itu pada si laki-laki.

Kemudian selang tiga hari kemudian laki-laki itu datang kembali pada Tvashtri dan berkata, “Rabb, aku akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa makhluk ini membawa lebih banyak kesulitan daripada kesenangan. Jadi ambillah dia kembali..”

Tapi kali ini Tvashtri menanggapi, “Pergilah kamu, aku tak mau lagi mendengar perkara ini. Kamu urus perkara ini sendiri.”

Lalu laki-laki itu mengeluh, “Tapi aku tak bisa hidup bersamanya.”

Dengan entengnya Tvashtri menjawab, “Toh kamu juga tidak bisa hidup tanpanya.” Tvashtri kemudian berbalik memunggungi si laki-laki untuk melanjutkan penciptaan-penciptaan lainnya.

Dan dalam kebingungannya itu si laki-laki berseloroh, “Lalu apakah yang harus kulakukan? Aku tak bisa hidup dengan atau tanpa perempuan ini.”’

(Dikutip dan diterjemahkan dari buku “The Family: Yesterday, Today, Tomorrow” karya Elaine & Walter Goodman)